Perkembangan teknologi sudah mendunia, sampai ke Indonesia tentunya. Dengan perkembangan yang pesat ini, manusia seakan dimanjakan oleh teknologi yang sangat sangat memudahkan manusia. Contoh simplenya saja penggunaan surat dan e-mail atau surat elektronik. Jaman dahulu, mendapatkan e-mail adalah suatu kebanggaan dari setiap pribadi. Banyak surat bertebaran dan kantor Pos Indonesia menjadi tujuan utama untuk berkomunikasi antar manusia dari asal muasal oleh burung merpati, burung “Si Pengantar Surat”. Namun sekarang, e-mail sudah berkembang dan hampir semua orang sudah menggunakan email. Bahkan anak umur 4 tahun pun sudah mempunyai email walaupun yang menggunakan para orangtua juga. Jaringan email inipun sudah menyebarluas di seluruh penjuru dunia. nggak harus repot repot jalan ke kantor pos, cuman tinggal buka laptop trus kirim email deh... begitulah kira kira gambaran manusia saat ini. Untuk menjalin silahturahmi pun sekarang banyak social media yang beredar yang digandrungi para remaja. Bukan untuk sekedar bersilahturahmi atau menjalin pertemanan, tapi juga jadi ajang pamer dan sebagainya. Para provider pun giat untuk menambah “armada sinyal mereka” dengan pemancar yang menjulang tinggi. Pembangunan gedung gedung “pencakar langit” pun giat dilaksanakan. Bahkan di surabaya saat ini, banyak sekali dijumpai apartemen yang baru akan dibangun di lahan lahan kosong.
Nah, masalah timbul pada kejadian ini.
“Lahan-lahan kosong” ini kerap jadi ajang pembuktian para arsitrktur untuk
istilahnya berlomba lomba membangun suatu bangunan setinggi mungkin dan
melebarkan sayap perusahaan dengan membangun bangunan di lahan kosong. Tak
masalah jika lahan yang dipakai “murni” lahan kosong. Jika sebelumnya adalah
perkebunan luas atau perumahan sekalipun seperti yang kita lihat di film film
layaknya penggusuran merata, penggundulan hutan untuk menjadi kawasan industri,
dan lain lain tentu akan membuahkan masalah besar untuk bumi kita ini.
Penggunaan hutan lindung sebagai kawasan industri ialah kesalahan besar. Bisa
dibayangkan kalau masa depan kita sudah tak ada lahan kosong, hutan lindung,
hutan sekalipun atau manusia sudah tak perduli dengan keasrian bumi? Pasti tak
akan ada lagu “kiri kanan, kulihat saja,
banyak pohon cemara...aa...aa..” yang ada “kiri kanan, kulihat saja, banyak gedung yang tingii..ii...ii..”
bisa bisa, generasi muda tak akan merasakan segarnya udara di pegunungan atau
di hutan. Mungkin tak akan ada lagi...
Memandang
alam dari atas bukit....
Sejauh
pandang ku lepaskan...
Sungai
tampak berliku.... Sawah hijau membentang...
Bagai
permadani di kaki langit...
Gunung
menjulang... Berpayung awan.....
Oh
indah pemandangan...
Masih ingatkah anda dengan lagu ini? Bisakah
dengan perkembangan teknologi yang begitu pesatnya, anak cucu kita masih bisa
menyanyikan lagu ini?
Jawabannya.... YA
Manusia diberi akal untuk berpikir. Ayo
kita bentuk masa depan yang berteknologi dan tetap ramah lingkungan. Bagaimana
caranya?
Langkah remaja untuk melestarikan bumi
dalam hal ini melestarikan tumbuhan sudah mulai berjalan. Kesadaran remaja
untuk melestarikan alam sudah berangsur membaik bahkan sudah banyak pelopor
kelestarian alam. Contohnya saja komunitas “TUNAS HIJAU” wilayah Surabaya.
Mereka dengan penuh kesadaran membuat gerakan peduli lingkungan yang inovatif.
Berbagai cara dilakukan untuk menyebar benih benih cinta lingkungan. Di SMAN 20
sendiri, materi PLH (Pelajaran Lingkungan Hidup) termasuk pelajaran wajib bagi
siswanya. Kegiatan mahasiswa untuk melestarikan bumi juga sudah berjalan dengan
baik. Contohnya saja Mahasiswa Unair yang membagikan bibit pohon dengan menukar
3 botol plastik beberapa hari yang lalu. Dengan membiasakan dan tetap
menyebarluaskan pelajaran cinta lingkungan. Kita bisa tetap melestarikan alam
di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Dengan kata lain. Bumi tetap sehat,
Manusia juga semakin cerdas.

0 komentar:
Posting Komentar