+44(0) 1234 567 890 info@domainname.com

Selasa, 29 April 2014

Enam Derajat: Masa Depan Kita di Planet yang Semakin Panas


Oleh Group Berita AS ( Asal bahasa Inggris)
Apabila pemanasan global terus berlanjut pada suhu tertentu maka kita akan menghadapi kepunahan. Jadi apa yang sebenarnya akan terjadi apabila bumi terus memanas?
Jurnalis dan penyiar acara lingkungan hidup asal Inggris, Tuan Mark Lynas, melakukan perjalanan selama 3 tahun yang mengelilingi 5 benua untuk menyaksikan berbagai perubahan karena dampak pemanasan global. Dari mencairnya tundra di Alaska, tenggelamnya pulau di Pasifik dari negara bagian dari Tuvalu, dan bertambahnya dataran tandus di pedalaman Mongolia sampai pada lenyapnya lapisan es di Peru dan banjir, serta badai yang menyebabkan erosi di China. Tuan Lynas secara pribadi mengumpulkan semua bukti yang dikumpulkan dalam bukunya mengenai perubahan iklim, High Tide: The Truth About Our Climate Crisis (Gelombang Besar: Kenyataan Mengenai Krisis Perubahan Iklim Kita).
Setelah itu, dalam waktu singkat Tuan Lynas mempelajari lebih mendalam tentang berbagai bukti ilmiah serta rasional mengenai efek pemakaian bahan bakar fosil terhadap iklim, lingkungan, dan kehidupan di planet ini. Beliau menghabiskan waktunya beberapa bulan di perpustakaan ilmiah Radcliffe di Universitas Oxford untuk membaca ribuan buku literatur ilmiah yang telah dianalisa secara mendalam sebelum mempublikasikan buku kejutannya yang kedua, Six Degrees: Our Future on a Hotter Planet (Enam Derajat: Masa Depan Kita di Planet yang Semakin Panas); sebagai media lain untuk membangkitkan kesadaran.
Buku terbarunya secara sistematik membahas perubahan iklim berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian secara ilmiah dengan penggunaan aplikasi komputer tahap lanjut  dan juga pencarian secara palaeoclimatic untuk menelusuri sejarah bumi yang memberikan gambaran akan pemanasan iklim di masa mendatang dan akibat yang akan dihadapi. Selain itu ia juga meneliti periode-periode dari perubahan iklim dramatik sebelumnya melalui proses alami dan meramalkan akan efek menakutkan dari pemanasan global yang akan dihadapi semua kehidupan dan lingkungan di planet ini.
Derajat demi derajat, satu derajat per bab. Enam Derajat disusun berdasarkan “Laporan Perkiraan Ketiga” dari Panel Antar Pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) tahun 2001 (http:/www.ipcc.ch). Pada setiap halaman, efek dari peningkatan temperatur di bumi dan lapisan biosfernya digambarkan dalam realitas yang menguatirkan.
Kenaikan suhu 1ºC sampai 3ºC merupakan “titik puncak”, tetapi jika naik sampai pada 6 ºC maka peningkatan ini dapat menyebabkan kepunahan pada hampir semua kehidupan, termasuk manusia! Sulit dibayangkan jika perilaku dari manusia sendiri yang menyebabkan kerusakan dan penderitaan yang tidak diharapkan. Kita telah membahayakan planet ini dan berada di ambang kehilangan momentum apabila kita tidak bertindak secepatnya untuk membatasi efek emisi gas rumah kaca.
Kenaikan Suhu 1 Derajat:
Pada kenaikan suhu 1 derajat, Kutub Utara akan kehilangan es setengah tahun penuh, Atlantik Selatan yang sebelumnya tidak ada badai akan mengalami serangan badai dan di barat AS terjadi kekeringan parah yang mengakibatkan banyak penduduk menderita.
Kenaikan Suhu 2 Derajat
Beruang kutub berjuang untuk hidup saat lapisan es mencair. Lapisan es di Greenland mulai menghilang, sedangkan batu karang menjadi lenyap. Permukaan air laut mengalami kenaikan 7 meter secara global.
Kenaikan Suhu 3 Derajat
Hutan hujan di Amazon mengering dan pola cuaca El Nino bertambah intensitasnya menjadi sesuatu yang biasa. Eropa secara berulang mengalami musim panas yang teramat panas yang sangat jarang terjadi sebelumnya. Jutaan dan milyaran orang akan berpindah dari sub tropik menuju daerah pertengahan garis lintang.
Kenaikan Suhu 4 Derajat
Air laut akan meninggi dan meluap membanjiri kota-kota di daerah pesisir. Menghilangnya lapisan es akan mengurangi banyak persediaan air tawar. Suatu bagian di Kutub Selatan akan tenggelam dan menyebabkan area air yang meluap semakin jauh. Temperatur musim panas di London akan menjadi 45ºC.
Kenaikan Suhu 5 Derajat
Daerah yang tidak bisa dihuni semakin menyebar, tumpukan es dan air tanah sebagai sumber air untuk kota-kota besar akan mengering dan jutaan pengungsi akan bertambah. Kebudayaan manusia akan mulai menghilang seiring dengan perubahan iklim yang dramatik ini. Dalam hal ini kelompok yang kurang mampu sepertinya akan menjadi paling menderita. Tidak ada lagi es yang tersisa pada kedua kutub seiring dengan punahnya bermacam species di lautan dan tsunami dalam skala besar memusnahkan kehidupan dekat pantai.
Kenaikan Suhu 6 Derajat
Pada kenaikan suhu 6 derajat, kepunahan massal sebesar 95% akan terjadi; makhluk yang masih hidup akan mengalami serangan badai dan banjir besar yang terus menerus; hidrogen sulfat dan kebakaran akibat gas metana akan menjadi hal yang biasa. Gas ini berpotensi menjadi bom atom dan tidak ada yang mampu bertahan hidup kecuali bakteri. Hal ini akan menjadi “skenario hari kiamat.”
Hal yang lebih menguatirkan adalah karena kompleksnya ekosistem di planet ini, kenyataan akan perubahan iklim ini dapat menjadi lebih buruk dibandingkan dengan perkiraan yang dilakukan secara ilmiah! Prediksi akan efek dari perubahan iklim sangat menguatirkan. Saat menganalisa ulang seluruh data yang ia kumpulkan, Tuan Lynas berpikir, mungkin ia “harus merahasiakan semuanya” karena kebenarannya sangat “menakutkan.” Sebenarnya, beberapa dari perkiraan mulai menjadi kenyataan, sebagai contoh, gelombang panas saat musim panas di Eropa telah mulai mempengaruhi kesehatan manusia, khususnya para manula. Cuaca yang memanas juga menyebabkan malaria dan penyakit lainnya yang bertambah secara regional. Pemanasan global telah membuat lapisan es di China menyusut 7% setiap tahunnya, hal ini dapat berakibat kerusakan yang lebih besar dan memberi efek kepada 300 juta jiwa yang sangat menggantungkan kebutuhan air mereka dari situ. Di India, mencairnya es yang sangat cepat telah menyebabkan 70.000 orang harus pindah dari Pulau Lohachara yang tenggelam, dan kenaikan permukaan laut telah menyebabkan dipindahkannya 20.000 penduduk yang tinggal di dataran paling rendah di Kepulauan Duke of York pada tahun 2000. Pada keadaan yang rentan dari ekosistem serta sistem sosial yang saling terkait satu sama lainnya, planet yang semakin panas juga menyebabkan rantai reaksi yang memicu terjadinya kelangkaan makanan dan air seiring dengan bertambahnya pengungsi sebagai akibat perubahan iklim.
Akan tetapi, Tuan Lynas tidak berniat membuat pembaca pesimis akan masa depan planet ini. Sebaliknya dia menyampaikan peringatan dini secara jelas dan mendesak perhatian internasional  akan diperlukannya usaha bersama untuk mengatasi pemanasan  global seperti “mengambil tabung pemadam dan memadamkan api.” Tidak diragukan lagi bahwa “api’ tersebut timbul sebagai akibat yang berkaitan dengan perilaku manusia dan berdasarkan analisis data, berbagai jenis emisi yang menyebabkan kenaikan temperature; dan waktu yang tersisa kurang dari 1 dekade saat kenaikan mencapai puncak ‘enam derajat’! Sesuai indikasi yang tercantum di bagan, kita telah mendekati tingkat 2 derajat, dengan demikian pilihan kita satu-satunya adalah bertindak secepat mungkin serta mengurangi emisi karbon dan metana.
Bagan : Kenaikan Suhu dan Emisi Karbon*
PERUBAHAN SUHU
TEMPERATUR YANG BERUBAH DALAM CELSIUS
JUMLAH CO2
Satu Derajat
0,1- 1,0ºC
350ppm(Level saat ini 380ppm)
Dua Derajat
1,1- 2,0 ºC
400ppm
Tiga Derajat
2,1- 3,0 ºC
450ppm
Empat Derajat
3,1- 4,0 ºC
550ppm
Lima Derajat
4,1- 5,0 ºC
650ppm
Enam Derajat
5,1- 5,8 ºC
800ppm
*Tabel dari hal 279 di Enam DerajatMasa Depan Kita di Planet yang Semakin Panas
Enam Derajat adalah sebuah tiupan terompet perang, panggilan kepada semua orang akan kondisi bumi kita yang berada pada situasi yang sangat kritis; ini adalah masa terpenting bagi para pemimpin dan tokoh politik untuk mengimplementasikan ketentuan ambang batas untuk mengurangi karbon dan gas dari efek rumah kaca lainnya, seperti metana. Tidak dapat di pungkiri bahwa ulah manusialah yang menyebabkan cepatnya kenaikan perubahan iklim. Kita harus mengubah gaya hidup kita ke arah yang lebih gembira dan lebih sehat  seperti berlaih ke energi yang berkelanjutan dan gaya hidup vegetarian untuk menyelamatkan bumi kita. Kita hanya mempunyai sedikit waktu yang sangat terbatas untuk membuat titik balik. Pemanasan global adalah sebuah realitas dan membutuhkan perhatian semua umat manusia di planet ini. Untuk itu marilah kita segera bertindak untuk menyejukkan bumi kita.
No comments

Green City

         Semakin majunya teknologi saat ini, membuat masyarakat dan pemerintah ingin membangun kota yang lebih modern. Pandangan masyarakat akan kota di masa depan adalah dimana dipenuhi dengan gedung-gedung tinggi dan fasilitas teknologi yang memadai, atau yang sering disebut dengan cybercity. Dengan banyaknya gedung-gedung tinggi dan bangunan-bangunan lainnya, maka lahan hijau terbuka akan berkurang. Kurangnya penghijauan dapat mengakibatkan global warming semakin parah. 

CyberCity

        Sekarang coba enyahkan pandangan itu! Coba bayangkan kota modern yang masih bernuansa hijau. Banyak pepohonan dimana-mana. Udara juga pasti akan lebih segar dan global warming juga pasti berkurang. Dengan banyaknya tumbuhan, suhu bumi menurun dan udara lebih sejuk. 
       
GreenCity

         Green building salah satu upaya untuk tetap menjaga lingkungan. Laboratorium Prodia di Surabaya, membangun Graha Prodia Surabaya dengan konsep green building dengan standar internasional. 
         Proyek yang dirancang oleh PT Archi Metric ini, menempati lahan seluas 1051.85 m2 dan taman seluas 131.96 m2,dengan bangunan sebanyak 9 lantai di Jl Diponegoro 149-151 Surabaya. Pembangunan dharapkan selesai pada bulan September 2014, bertepatan dengan ulang tahun Prodia Surabaya ke-34. 
         Bangunan hanya menempati 50% dari lahan dan sisanya dipergunakan untuk landscapingdan green proof.Grha Prodia Surabaya memiliki ruang terbuka hijau sebanyak 22% dari luas tanah yang tersedia, berarti dua kali lipat lebih luas dari yang dipersyaratkan pemerintah kota sebesar 11%.
        Sebagai salah satu strategi penghematan penggunaan air bersih, laboratorium menggunakan sanitair yang hemat air dan didesain sedemikian rupa agar dapat menghemat pemakaian energi listrik.
        Selain itu, material yang dipakai juga diseleksi secara ketat untuk memenuhi persyaratan standar green building,misalnya mengutamakan material lokal, hasil daur ulang dan material alami. 
        Dengan adanya green building ini semoga para pengusaha akan berinovasi untuk membangun gedung-gedungnya dengan konsep green building.

Green Building



No comments

Future goes to Nature



Perkembangan teknologi sudah mendunia, sampai ke Indonesia tentunya. Dengan perkembangan yang pesat ini, manusia seakan dimanjakan oleh teknologi yang sangat sangat memudahkan manusia. Contoh simplenya saja penggunaan surat dan e-mail atau surat elektronik. Jaman dahulu, mendapatkan e-mail adalah suatu kebanggaan dari setiap pribadi. Banyak surat bertebaran dan kantor Pos Indonesia menjadi tujuan utama untuk berkomunikasi antar manusia dari asal muasal oleh burung merpati, burung “Si Pengantar Surat”. Namun sekarang, e-mail sudah berkembang dan hampir semua orang sudah menggunakan email. Bahkan anak umur 4 tahun pun sudah mempunyai email walaupun yang menggunakan para orangtua juga. Jaringan email inipun sudah menyebarluas di seluruh penjuru dunia. nggak harus repot repot jalan ke  kantor pos, cuman tinggal buka laptop trus kirim email deh... begitulah kira kira gambaran manusia saat ini. Untuk menjalin silahturahmi pun sekarang banyak social media yang beredar yang digandrungi para remaja. Bukan untuk sekedar bersilahturahmi atau menjalin pertemanan, tapi juga jadi ajang pamer dan sebagainya. Para provider pun giat untuk menambah “armada sinyal mereka” dengan pemancar yang menjulang tinggi. Pembangunan gedung gedung “pencakar langit” pun giat dilaksanakan. Bahkan di surabaya saat ini, banyak sekali dijumpai apartemen yang baru akan dibangun di lahan lahan kosong.
Nah, masalah timbul pada kejadian ini. “Lahan-lahan kosong” ini kerap jadi ajang pembuktian para arsitrktur untuk istilahnya berlomba lomba membangun suatu bangunan setinggi mungkin dan melebarkan sayap perusahaan dengan membangun bangunan di lahan kosong. Tak masalah jika lahan yang dipakai “murni” lahan kosong. Jika sebelumnya adalah perkebunan luas atau perumahan sekalipun seperti yang kita lihat di film film layaknya penggusuran merata, penggundulan hutan untuk menjadi kawasan industri, dan lain lain tentu akan membuahkan masalah besar untuk bumi kita ini. Penggunaan hutan lindung sebagai kawasan industri ialah kesalahan besar. Bisa dibayangkan kalau masa depan kita sudah tak ada lahan kosong, hutan lindung, hutan sekalipun atau manusia sudah tak perduli dengan keasrian bumi? Pasti tak akan ada lagu “kiri kanan, kulihat saja, banyak pohon cemara...aa...aa..” yang ada “kiri kanan, kulihat saja, banyak gedung yang tingii..ii...ii..” bisa bisa, generasi muda tak akan merasakan segarnya udara di pegunungan atau di hutan. Mungkin tak akan ada lagi...
Memandang alam dari atas bukit....
Sejauh pandang ku lepaskan...
Sungai tampak berliku.... Sawah hijau membentang...
Bagai permadani di kaki langit...
Gunung menjulang... Berpayung awan.....
Oh indah pemandangan...
Masih ingatkah anda dengan lagu ini? Bisakah dengan perkembangan teknologi yang begitu pesatnya, anak cucu kita masih bisa menyanyikan lagu ini?
Jawabannya.... YA
Manusia diberi akal untuk berpikir. Ayo kita bentuk masa depan yang berteknologi dan tetap ramah lingkungan. Bagaimana caranya?

Langkah remaja untuk melestarikan bumi dalam hal ini melestarikan tumbuhan sudah mulai berjalan. Kesadaran remaja untuk melestarikan alam sudah berangsur membaik bahkan sudah banyak pelopor kelestarian alam. Contohnya saja komunitas “TUNAS HIJAU” wilayah Surabaya. Mereka dengan penuh kesadaran membuat gerakan peduli lingkungan yang inovatif. Berbagai cara dilakukan untuk menyebar benih benih cinta lingkungan. Di SMAN 20 sendiri, materi PLH (Pelajaran Lingkungan Hidup) termasuk pelajaran wajib bagi siswanya. Kegiatan mahasiswa untuk melestarikan bumi juga sudah berjalan dengan baik. Contohnya saja Mahasiswa Unair yang membagikan bibit pohon dengan menukar 3 botol plastik beberapa hari yang lalu. Dengan membiasakan dan tetap menyebarluaskan pelajaran cinta lingkungan. Kita bisa tetap melestarikan alam di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Dengan kata lain. Bumi tetap sehat, Manusia juga semakin cerdas.
No comments